Rabu, 20 Juni 2012

“Where Will I Go?”

“Where Will I Go?”

Nama saya Dilla Dwi Nanda. Saya anak dari pasangan H. Subarno dan Hj. Ida Fitri. Saya mempunyai kakak perempuan Dian Pratiwi yang sekarang sudah lulus di sebuah Institut di Bandung bernama Institut Manajemen Telkom dengan jurusan Manajemen Bisnis Telekomunikasi dan Informatika….

Waktu saya menghadiri acara wisuda itu saya sangat merasa “WAH” karena itu kali pertama saya bisa mengetahui bagaimana susunan acara wisuda. Disana saya melihat banyak sekali wisudawan-wisudawati yang lulus dengan wajah yang bersinar, dan sebagian lulus dengan predikat terbaik (cumlaude). Setiap kali disebut lulus dengan predikat “cumlaude”, para hadirin dan para wisudawan memberi tepukan hangat yang membuat saya yaaaah “it’s cool!”. Walaupun kakak saya tidak mendapat gelar itu, tak lantas kebanggaan saya kepadanya hilang begitu saja. Karena setiap kali mendengar hasil ujiannya selalu mendapat nilai antara B dan A, dan dia juga termasuk lulusan tercepat diantara teman-teman seangkatannya yaitu 3 setengah tahun. Saya tahu bagaimana perasaan orangtua saya kala itu :

-          Bangga dengan kelulusan kakak saya
-          Bangga dengan hasil nilai-nilai ujiannya
-          Bangga dengan ketekunan belajarnya sehingga bisa lebih cepat kelulusannya.

-          Dan terlebih lagi bangga jika kakak saya mendapat kelulusan dengan predikat cumlaude.
Rasanya saya tidak ingin pulang sekarang, yaa saya masih menikmati acara itu, tapi sesungguhnya saya ingin pulang jika orangtua saya tidak akan membebani saya nantinya harus lulus dengan predikat cumlaude -_-


----------


Memasuki judul saya “      Where will I go?” , oh ya saya belum bilang bahwa saya sekarang kelas 2 SMA disemester 2 yang dalam waktu 3 hari lagi akan mendapat hasil rapor yang menyatakn saya naik atau tidaknya ke kelas 3. Nah, saat-saat seperti inilah yang seharusnya saya sudah berpikir “mau kemana saya?”  karena banyak sekali kalimat – kalimat orang diantara saya yang bilang seperti ini : “kelas 3 itu ga lama lo”, “mau ngambil jurusan apa ntar? Dimana?”. Kalimat – kalimat itu yang selalu terdengar  ditelinga saya, dan boleh dibilang saya juga bosan mendengarnya, jadi saya lebih memilih untuk mengatakan “ga tau” ketimbang ditanya lebih lanjut. Toh saya memang belum terlalu memastikan akan kemana. Bukan berarti saya tidak memikirkannya, tetapi takutnya ntar apa yang saya bilang tidak sesuai dengan sebenarnya. 

Saya tentu memiliki pilihan –pilihan, dan jujur saja pilihan itu terkadang berubah-ubah sesuai apa yang dikatakan orang disekeliling saya, termasuk kedua orangtua saya. Perubahan itu bukan karena saya ikut saja apa yang dikatakan orang, tetapi karena apa yang mereka katakan saya pikirkan lagi kenapa hal itu tidak baik bagi saya, dan bagaimana saya nantinya jika menghadapi itu. Apa saya sanggup? Dan alasan itu juga didukung langsung oleh beberapa pihak yang membagi pengalamnnya akan hal itu. Menurut saya itu sah-sah saja, karena sebagai tambahan berpikir saya.

Saya sering bertukar pikiran dengan orangtua saya, menanyakan bagaimana saya seharusnya? Orangtua saya memberi saya masukan dan menyerahkan itu semua terserah pada pilihan saya. Saya menerima itu, dan sekarang saya mulai bisa menjawab dengan kesungguhan dan keyakinan saya dari kalimat – kalimat orang yang diajukan orang kepada saya HANYA DIHATI saya saja, tidak kepada orang-orang itu. Mudah – mudahan dengan izin Allah SWT itu merupakan pilihan yang pantas bagi saya dan diridhai oleh-Nya. Dan kepada para pembaca (jika ada hehe =D) saya mohon doanya agar saya senantiasa diberi petunjuk dan kelancaran dalam menjawab pertanyaan kalian “where will I go?” :)
Amiiiiinn….


Wassalam…

2 komentar:

  1. beruntung yah udah pernah liat acara wisuda, nah gueeeeeee???????? pas mau diwisuda baru tau prosesi wisuda itu kayak apa -___________-

    BalasHapus
  2. lebih beruntung lagi terlibat diacara wisuda "sendiri" ;)

    BalasHapus