“Where Will I Go?”
Nama saya Dilla Dwi Nanda.
Saya anak dari pasangan H. Subarno dan Hj. Ida Fitri. Saya mempunyai kakak
perempuan Dian Pratiwi yang sekarang sudah lulus di sebuah Institut di Bandung
bernama Institut Manajemen Telkom dengan jurusan Manajemen Bisnis
Telekomunikasi dan Informatika….
Waktu saya menghadiri
acara wisuda itu saya sangat merasa “WAH” karena itu kali pertama saya bisa
mengetahui bagaimana susunan acara wisuda. Disana saya melihat banyak sekali
wisudawan-wisudawati yang lulus dengan wajah yang bersinar, dan sebagian lulus
dengan predikat terbaik (cumlaude). Setiap kali disebut lulus dengan predikat
“cumlaude”, para hadirin dan para wisudawan memberi tepukan hangat yang membuat
saya yaaaah “it’s cool!”. Walaupun kakak saya tidak mendapat gelar itu, tak
lantas kebanggaan saya kepadanya hilang begitu saja. Karena setiap kali
mendengar hasil ujiannya selalu mendapat nilai antara B dan A, dan dia juga
termasuk lulusan tercepat diantara teman-teman seangkatannya yaitu 3 setengah
tahun. Saya tahu bagaimana perasaan orangtua saya kala itu :
-
Bangga
dengan kelulusan kakak saya
-
Bangga
dengan hasil nilai-nilai ujiannya
-
Bangga
dengan ketekunan belajarnya sehingga bisa lebih cepat kelulusannya.
-
Dan
terlebih lagi bangga jika kakak saya mendapat kelulusan dengan predikat
cumlaude.
Rasanya saya tidak
ingin pulang sekarang, yaa saya masih menikmati acara itu, tapi sesungguhnya
saya ingin pulang jika orangtua saya tidak akan membebani saya nantinya harus
lulus dengan predikat cumlaude -_-
----------
Memasuki judul saya “ Where will I go?” , oh ya saya belum
bilang bahwa saya sekarang kelas 2 SMA disemester 2 yang dalam waktu 3 hari
lagi akan mendapat hasil rapor yang menyatakn saya naik atau tidaknya ke kelas
3. Nah, saat-saat seperti inilah yang seharusnya saya sudah berpikir “mau
kemana saya?” karena banyak sekali
kalimat – kalimat orang diantara saya yang bilang seperti ini : “kelas 3 itu ga
lama lo”, “mau ngambil jurusan apa ntar? Dimana?”. Kalimat – kalimat itu yang
selalu terdengar ditelinga saya, dan
boleh dibilang saya juga bosan mendengarnya, jadi saya lebih memilih untuk
mengatakan “ga tau” ketimbang ditanya lebih lanjut. Toh saya memang belum
terlalu memastikan akan kemana. Bukan berarti saya tidak memikirkannya, tetapi
takutnya ntar apa yang saya bilang tidak sesuai dengan sebenarnya.
Saya tentu memiliki
pilihan –pilihan, dan jujur saja pilihan itu terkadang berubah-ubah sesuai apa
yang dikatakan orang disekeliling saya, termasuk kedua orangtua saya. Perubahan
itu bukan karena saya ikut saja apa yang dikatakan orang, tetapi karena apa
yang mereka katakan saya pikirkan lagi kenapa hal itu tidak baik bagi saya, dan
bagaimana saya nantinya jika menghadapi itu. Apa saya sanggup? Dan alasan itu
juga didukung langsung oleh beberapa pihak yang membagi pengalamnnya akan hal
itu. Menurut saya itu sah-sah saja, karena sebagai tambahan berpikir saya.
Saya sering bertukar pikiran dengan orangtua saya, menanyakan
bagaimana saya seharusnya? Orangtua saya memberi saya masukan dan menyerahkan
itu semua terserah pada pilihan saya. Saya menerima itu, dan sekarang saya
mulai bisa menjawab dengan kesungguhan dan keyakinan saya dari kalimat –
kalimat orang yang diajukan orang kepada saya HANYA DIHATI saya saja, tidak
kepada orang-orang itu. Mudah – mudahan dengan izin Allah SWT itu merupakan
pilihan yang pantas bagi saya dan diridhai oleh-Nya. Dan kepada para pembaca
(jika ada hehe =D) saya mohon doanya agar saya senantiasa diberi petunjuk dan
kelancaran dalam menjawab pertanyaan kalian “where will I go?” :)
Amiiiiinn….
Wassalam…
beruntung yah udah pernah liat acara wisuda, nah gueeeeeee???????? pas mau diwisuda baru tau prosesi wisuda itu kayak apa -___________-
BalasHapuslebih beruntung lagi terlibat diacara wisuda "sendiri" ;)
BalasHapus