DISLEKSIA
Hmm… Hidungku tak asing lagi
mengenal harumnya aroma coffe latte panas favoritku di sebuah Café di ujung
jalan tak jauh dari rumahku. Tiba – tiba seorang pelayan menghampiri mejaku dan
menaruhkan coffe pesananku. “Terimakasih mbak,” ucapku pada si pelayan, dan
dibalas oleh senyuman si pelayan. Kemudian ia pergi meninggalkanku dan kembali
mengantarkan pesanan ke meja lainnya. Aku pun kembali sibuk dengan lamunanku
tentang kejadian tadi pagi di Sekolah. Kejadian itu membuatku tak dapat
membendung air mataku sehingga tak sadar sekarang air mataku pun menetes di
pipi. Tiba – tiba aku kembali sadar dan menghentikan lamunanku dan segera
menyeruput coffe latte panas-ku yang hampir dingin.
------------------------
Hoaamm.. Rasanya aku baru tidur
beberapa menit yang lalu setelah menyelesaikan tugas Sekolah yang menumpuk.
Segera kusambar Handphoneku untuk melihat jam, dan ternyata ada pesan masuk :
|
Deg! Tiba – tiba jantungku berdegup
kencang, tubuhku lemas, pikiranku kembali melayang pada kejadian semalam.
Rasanya aku tak ingin ke Sekolah pagi ini.
“Diraaaaa…… sudah jam berapa ini, kamu masih melamun aja, cepat mandi
kemudian sarapan, kami sudah menunggumu di bawah,” tiba-tiba Ibu sudah berdiri
di depan pintu kamarku. “Iya bu,” jawabku seadanya. Kutinggalkan Hp ku begitu
saja di tempat tidur, tanpa membalas sms dari Risa, segera aku bergegas ke
kamar mandi dan bersiap – siap ke Sekolah pagi ini. “Huh, mudah – mudahan saja
hari ini lebih baik,” do’aku dalam hati.
Segera kuturuni tangga dengan
hati – hati dan menghampiri Ayah dan Ibu yang sudah di sana sejak tadi. “Pagi
yah, pagi bu,” sapaku sambil tersenyum lebar. Dan segera mengambil posisi duduk seperti
biasa. “Waah.. Anak ayah sudah ceria ya sekarang, tidak seperti semalam, jelek
sekali wajahmu ketika menangis hihihi,” goda ayahku. “Ayaaaaaahh…..,” rengekku
sambil cemberut. Dan kesalnya ayah masih saja cekikikan.“Eh, sudah – sudah
becandanya, cepat habiskan sarapanmu ra, sebentar lagi pukul 7,” ucap ibuku.
“Neng Dira, mobilnya sudah siap,
mau pergi sekarang?,” tanya Pak Heri. “Oh iya pak,” ucapku sambil bergegas
menyelesaikan sarapanku dan mengambil tas dan beberapa buku cetak di meja. “Aku
pergi ya yah, bu, Assalamu’alaikum.” “Wa’alaikumsalam,” jawab orang tuaku
serempak. “Hati – hati di jalan ya nak, belajar yang baik, ingat pesan ibu,
jangan bebani lagi pikiranmu dengan kejadian – kejadian semalam,” tambah Ibu.
Aku hanya mengangguk dan tersenyum mendengar perkataan Ibu barusan, dan segera
menyusul Pak Heri masuk ke mobil.
Di sepanjang perjalanan menuju
Sekolah, aku teringat kembali dengan sms Risa tadi pagi, aku mulai memikirkan
kemungkinan – kemungkinan buruk yang akan terjadi lagi hari ini. Itu semua
membuatku semakin gelisah dan takut untuk datang ke Sekolah. Sesekali kulirik
Pak Heri disampingku yang serius menyetir, sekarang aku sadar Pak Heri tak
seseram saat pertama kali aku bertemu dengannya yang bekerja sebagai supir di
keluarga kami. Perawakannya yang tinggi, sedikit kekar dan memiliki mata yang
tajam membuat aku dan Risa yang
terkadang ikut denganku saat pulang Sekolah dan main dirumahku hingga sore tiba
– tiba menjadi seorang Risa yang pendiam di dalam mobil. Hahaha aku geli
sendiri mengingat kejadian itu mengingat Risa yang cukup cerewet dan selalu
mengetahui gosip – gosip terbaru di Sekolah. Walaupun begitu, ia baik denganku,
dan selalu membantuku ketika aku dalam masalah besar sekalipun.
---------------------------
Mobil pun berhenti tepat di depan
gerbang sekolah, baru saja aku turun dari mobil, tiba – tiba seseorang menarik
tanganku dan membawaku berlari menerobos koridor – koridor sekolah yang
dipenuhi siswa – siswa lainnya. Dan kepalaku menoleh untuk melihat siapa orang yang menarikku tanpa alasan
yang jelas seperti ini, dan ternyata Risa. “Huh!,” pikirku kesal. Dan akhirnya
kami berhenti berlari tepat di belakang
bangunan sekolah kami yang cukup sepi, tampaknya ada sesuatu yang ingin
disampaikan Risa padaku. “Ra, aku tadi mendengar Bobby dan Rony membicarakan
rencana jahil mereka untuk mempermalukanmu di depan kelas”, ucap Risa dengan
tersengal – sengal. “Jadi hanya ini yang mau kamu kasi tahu sama aku setelah
tiba – tiba kamu ajak aku lari – lari keliling Sekolah?”, cetusku, lalu pergi
meninggalkan Risa yang terpaku mendengar ucapanku barusan. Aku pun baru sadar,
mengapa kalimat itu tiba – tiba saja keluar dari mulutku, dalam berjalan aku
berfikir, mungkin Risa berniat baik padaku untuk tidak dipermalukan Bobby dan
Rony lagi di depan kelas, tapi aku hanya ingin menganggap apa yang terjadi
semalam dan yang akan terjadi nanti hanyalah kesilapanku yang tak disengaja.
Walaupun sebenarnya itu sudah terjadi beberapa kali…
-----------------------------
“Teng…teng…teng..,” lonceng tanda
jam pelajaran Matematika hari ini telah usai, dan akan dilanjutkan pelajaran
Bahasa Indonesia. Selama 2 jam pelajaran, aku dan Risa yang duduk bersebelahan
masih saling membisu. Tak ada yang berani memulai pembicaraan.
“Selamat pagi anak – anak,” sapa
Pak Rama, guru Bahasa Indonesia yang
baru masuk ke kelas dan siap memulai pelajaran. “Pagi Paak…!” jawab kami
serempak. “Baiklah anak – anak, materi pelajaran kita hari ini adalah menulis
dan membaca cerpen. 3 Jam pelajaran hari ini kita gunakan 2 jam untuk menulis
cerpen, dan 1 jam untuk membacanya ke depan kelas dengan diundi,” kata Pak Rama
bersemangat. Semua siswa antusias mendengarnya. Mereka langsung memulai
berimajinasi, tak terkecuali Dira. Lain halnya dengan Risa yang gelisah karena khawatir
kejadian semalam akan terulang lagi pada sahabatnya Dira. Ia tahu ini semua
rencana Bobby dan Rony untuk mempermalukan Dira lagi di depan kelas.
2 Jam berlalu…
Semua siswa terlihat puas setelah
melihat cerpen mereka telah selesai. “Ehem… Baiklah anak –anak, seperti biasa
Bapak akan mengundi nama - nama yang akan tampil di depan kelas terlebih dulu.
Ketua kelas tolong bantu bapak untuk membuat nama – nama seluruh siswa yang
akan kita undi,” kata Pak Rama. Dengan senyum mengembang dan sambil mengedipkan
mata kepada Rony, Bobby menyiapkan kertas – kertas kecil kemudian menuliskan
beberapa nama. Kertas – kertas tersebut kemudian digulung dan dikumpulkan dalam
sebuah wadah berbentuk tabung. “Nah! Sudah siap anak – anak?” tanya Pak Rama.
“Siap Paaaak…!” jawab semua murid. Pak Rama mulai mengambil 1 gulungan kertas
dan membukanya. Dengan harap – harap cemas para siswa menanti nama mereka yang
akan dipanggil pertama. “Dan undian pertama adalaaaaah…DIRA!” teriak Pak Rama.
Dengan semangat Dira maju ke depan kelas dan memulai cerpennya. Para siswa
menyimak cerita yang Dira sampaikan di depan kelas, namun tiba – tiba ada
beberapa kalimat asing (lagi) yang mereka dengar dari pengucapan Dira : “Sejak
kepergiam Tuam dam aymoym Darnawam mereka pekerjaan urusam nemgabaikam..”. “Hey
Dira! Kamu tidak bisa membaca ya! Membaca tulisan sendiri saja tidak becus,
kenapa bisa masuk SMA? Hahahaha…” teriak Bobby. Dan diikuti ketawa seluruh
siswa di kelas, kecuali Risa. Dira tiba – tiba menghentikan bacaannya dan
terdengar bunyi lonceng tanda istirahat. Pak Rama pun menyuruh Dira kembali ke
tempat duduk dan akan disambung lagi minggu depan. Dira buru – buru menuju
kursinya dan menahan air matanya yang sudah menggenang. Lagi – lagi Dira tak
mengerti apa kesalahan yang telah ia buat, ia merasa tak ada yang salah dalam
penulisan dan bacaannya, namun teman – temannya masih saja menertawakannya
seperti kejadian semalam. Ia benar – benar menghayati puisi yang ia bacakan di
depan kelas, namun penghayatan itu tiba – tiba pecah karena Bobby juga
mengatakan hal yang sama seperti yang ia katakan hari ini. Dan semua teman –
temannya yang semula juga ikut terlarut dalam penghayatan Dira tiba – tiba alis
mereka berkerut dan ikut tertawa bersama Bobby.
“Dira, aku udah tahu sebenarnya
hari ini akan terjadi lagi seperti semalam, tadi aku sebenarnya ingin
mengatakan padamu kalau Bobby akan menuliskan semua namamu di kertas undian
itu, agar kamu yang maju ke depan kelas dan membaca dengan… yaa mungkin kamu
tahu, aku tak perlu mengatakannya”, jelas Risa panjang lebar yang akhirnya berani
membuka pembicaraan. “Tidak! Aku tidak tahu apa yang terjadi, mengapa mereka
menertawaiku, apa yang salah dengan cerpenku?”, isak Dira yang tak bisa
membendung air matanya lagi. Risa hanya terpaku mendengar jawaban Dira yang
rasanya cukup aneh, jelas – jelas ia mendengar Dira mengatakan yang seharusnya
huruf m menjadi n, huruf n menjadi m, dan penyusuan kalimat Dira yang terbalik.
Tapi apa mungkin hal yang jelas seperti itu harus ia jelaskan pada Dira. Risa
memilih untuk tidak melanjutkan membahas hal itu, dan ia mencoba menghibur Dira
seperti biasa.
---------------------------
“Pak, mampir ke Café di ujung
jalan ya, kami mau beli cemilan untuk di rumah, lapeeeer,” pinta Dira pada Pak
Heri. “Ok, neng,” jawab Pak Heri. Café itu terlihat ramai seperti biasanya,
saat memasuki café, Dira dan Risa sudah mencium aroma coffe latte, cheese cake,
klappertart, dan beraneka macam aroma kue dan minuman lainnya. “Mbak, saya
pesan coffe latte panas 2 dan cheese cake 2,” ucap Dira pada pelayan Café. “Ini
mbak, semuanya Rp. 54.500,-” kata si pelayan. Dira menyerahkan selembar uang
Rp. 100.000,-. “Ini kembaliannya mbak, terimakasih,” kata si pelayan sambil
tersenyum. “Sama – sama”, balas Dira sambil mengambil uang kembalian.
---------------------------
“Assalamu’alaikum..” teriak Dira
dan Risa bersamaan sambil memasuki rumah. “Wa’alaikumsalam, eh ada nak Risa,
ayo masuk,” jawab Ibu Dira yang dibalas anggukan dan senyuman dari Risa.
“Sebentar ya Ris, aku ambil sendok dan piring dulu, kamu tunggu aja di kamar
aku,” ucap Dira. Risa mengangguk mengiyakan. “Eh Ris, gimana hari ini di
Sekolah? Dira baik – baik ajakan?” bisik Ibu Dira. “Hmm..hmm.. kejadian semalam
terulang lagi tante,” jawab Risa polos. Tiba – tiba muncul rasa penasaran Risa
pada Dira yang menurutnya sedikit aneh. “Hmm… tante, sebenarnya ada apa sama
Dira? Tadi dia bilang kalau dia tidak sadar kalau ucapannya itu salah, kan
jelas – jelas…” . “Ssstt…” potong Ibu Dira cepat mendengar ocehan Risa panjang
lebar yang seperti omelan. “Hmm… Sepertinya kamu perlu tau tentang Dira, dan
tante harap kamu bisa bantu tante dan om supaya Dira tidak putus asa”, jawab
Ibu Dira yang diterima dengan kerutan dahi dari Risa.
----------------------------
Di kamarnya, Risa masih
memikirkan penjelasan dari Ibu Dira yang menurutnya sangat sulit ia cerna. Dia
mencoba kembali mengingat – ingat penyakit yang diderita Dira. “Aha!”, seru
Risa tiba – tiba.
“ Disleksia”, tangan Risa
mengetik dan mencoba mengeja apakah kata itu benar atau tidak, buru – buru ia
menekan ‘enter’.
“Disleksia (Inggris: dyslexia) adalah sebuah kondisi ketidakmampuan belajar pada seseorang yang disebabkan oleh kesulitan pada orang
tersebut dalam melakukan aktivitas membaca atau menulis. Penderita terjebak dalam dunia yang penuh dengan tulisan-tulisan
yang tidak dimengerti. Istilah disleksia mengacu pada gangguan membaca yang
dimiliki oleh seseorang, seperti kesulitan membaca, memahami bacaan, kesulitan
membedakan huruf yang mirip seperti b, d, q, p, v, u, n,m dan lainnya.
Penderita disleksia secara fisik tidak akan
terlihat sebagai penderita. Disleksia tidak hanya terbatas pada ketidakmampuan
seseorang untuk menyusun atau membaca kalimat dalam urutan terbalik tetapi juga
dalam berbagai macam urutan, termasuk dari atas ke bawah, kiri dan kanan, dan
sulit menerima perintah yang seharusnya dilanjutkan ke memori pada otak.
Hal ini yang sering
menyebabkan penderita disleksia dianggap tidak konsentrasi dalam beberapa hal.
Para peneliti menemukan disfungsi ini disebabkan oleh kondisi dari biokimia otak yang tidak stabil dan juga dalam beberapa hal akibat
bawaan keturunan dari orang tua.”
“Pengobatan disleksia”, tangan
Risa kembali mengetik pada kotak pencarian, kemudian menekan‘enter’.
“Pengobatan
disleksia antara lain :
Metode multi-sensory.
Dengan metode yang terintegrasi,
penderita diajarkan mengeja tidak hanya berdasarkan apa yang didengarnya lalu
diucapkan kembali, tapi juga memanfaatkan kemampuan memori visual (penglihatan)
serta taktil (sentuhan). Cara ini dilakukan untuk memungkinkan terjadinya
asosiasi antara pendengaran, penglihatan dan sentuhan sehingga mempermudah otak
bekerja mengingat kembali huruf-huruf.
Membangun rasa percaya diri.
Jangan pernah menganggap mereka
bodoh dalam melakukan apapun. Bantulah mereka menemukan keunggulan diri, agar
bisa merasa bangga dan tidak pesimis terhadap hambatan yang saat ini sedang
diatasi. Kalau perlu, jelaskan pada mereka figur-figur orang terkenal yang
mampu mengatasi problem disleksianya dan melakukan sesuatu yang berguna untuk
masyarakat.”
Risa terpaku setelah membaca artikel yang membuatnya tak
percaya, kalau sahabatnya Dira yang ia kenal cantik, pintar, dan punya segala
kemewahan, ternyata mengidap penyakit aneh bernama disleksia. Namun hal itu
tidak menjadi penghalang bagi Risa untuk tetap menyayanginya sebagai sahabat
dan Risa ingin sekali membantu Dira agar ia bisa sembuh dari penyakit itu.
Bergegas Risa raih Hp yang ada di sebelahnya dan menuliskan sebuah pesan
singkat untuk Dira :
|
“Zetzetzet…,”
Hp Risa bergetar tanda sms masuk :
|
Tidak ada komentar:
Posting Komentar