Rabu, 20 Juni 2012

DISLEKSIA


DISLEKSIA

Hmm… Hidungku tak asing lagi mengenal harumnya aroma coffe latte panas favoritku di sebuah Café di ujung jalan tak jauh dari rumahku. Tiba – tiba seorang pelayan menghampiri mejaku dan menaruhkan coffe pesananku. “Terimakasih mbak,” ucapku pada si pelayan, dan dibalas oleh senyuman si pelayan. Kemudian ia pergi meninggalkanku dan kembali mengantarkan pesanan ke meja lainnya. Aku pun kembali sibuk dengan lamunanku tentang kejadian tadi pagi di Sekolah. Kejadian itu membuatku tak dapat membendung air mataku sehingga tak sadar sekarang air mataku pun menetes di pipi. Tiba – tiba aku kembali sadar dan menghentikan lamunanku dan segera menyeruput coffe latte panas-ku yang hampir dingin.

------------------------

Hoaamm.. Rasanya aku baru tidur beberapa menit yang lalu setelah menyelesaikan tugas Sekolah yang menumpuk. Segera kusambar Handphoneku untuk melihat jam, dan ternyata ada pesan masuk :


From : +628520008123
                Risa

Cepet ke Sekolah sekarang…!!

 
 
Deg! Tiba – tiba jantungku berdegup kencang, tubuhku lemas, pikiranku kembali melayang pada kejadian semalam. Rasanya aku tak ingin ke Sekolah pagi ini.  “Diraaaaa…… sudah jam berapa ini, kamu masih melamun aja, cepat mandi kemudian sarapan, kami sudah menunggumu di bawah,” tiba-tiba Ibu sudah berdiri di depan pintu kamarku. “Iya bu,” jawabku seadanya. Kutinggalkan Hp ku begitu saja di tempat tidur, tanpa membalas sms dari Risa, segera aku bergegas ke kamar mandi dan bersiap – siap ke Sekolah pagi ini. “Huh, mudah – mudahan saja hari ini lebih baik,” do’aku dalam hati.
Segera kuturuni tangga dengan hati – hati dan menghampiri Ayah dan Ibu yang sudah di sana sejak tadi. “Pagi yah, pagi bu,” sapaku sambil tersenyum lebar.  Dan segera mengambil posisi duduk seperti biasa. “Waah.. Anak ayah sudah ceria ya sekarang, tidak seperti semalam, jelek sekali wajahmu ketika menangis hihihi,” goda ayahku. “Ayaaaaaahh…..,” rengekku sambil cemberut. Dan kesalnya ayah masih saja cekikikan.“Eh, sudah – sudah becandanya, cepat habiskan sarapanmu ra, sebentar lagi pukul 7,” ucap ibuku.
“Neng Dira, mobilnya sudah siap, mau pergi sekarang?,” tanya Pak Heri. “Oh iya pak,” ucapku sambil bergegas menyelesaikan sarapanku dan mengambil tas dan beberapa buku cetak di meja. “Aku pergi ya yah, bu, Assalamu’alaikum.” “Wa’alaikumsalam,” jawab orang tuaku serempak. “Hati – hati di jalan ya nak, belajar yang baik, ingat pesan ibu, jangan bebani lagi pikiranmu dengan kejadian – kejadian semalam,” tambah Ibu. Aku hanya mengangguk dan tersenyum mendengar perkataan Ibu barusan, dan segera menyusul Pak Heri masuk ke mobil.
Di sepanjang perjalanan menuju Sekolah, aku teringat kembali dengan sms Risa tadi pagi, aku mulai memikirkan kemungkinan – kemungkinan buruk yang akan terjadi lagi hari ini. Itu semua membuatku semakin gelisah dan takut untuk datang ke Sekolah. Sesekali kulirik Pak Heri disampingku yang serius menyetir, sekarang aku sadar Pak Heri tak seseram saat pertama kali aku bertemu dengannya yang bekerja sebagai supir di keluarga kami. Perawakannya yang tinggi, sedikit kekar dan memiliki mata yang tajam membuat aku  dan Risa yang terkadang ikut denganku saat pulang Sekolah dan main dirumahku hingga sore tiba – tiba menjadi seorang Risa yang pendiam di dalam mobil. Hahaha aku geli sendiri mengingat kejadian itu mengingat Risa yang cukup cerewet dan selalu mengetahui gosip – gosip terbaru di Sekolah. Walaupun begitu, ia baik denganku, dan selalu membantuku ketika aku dalam masalah besar sekalipun.

---------------------------

Mobil pun berhenti tepat di depan gerbang sekolah, baru saja aku turun dari mobil, tiba – tiba seseorang menarik tanganku dan membawaku berlari menerobos koridor – koridor sekolah yang dipenuhi siswa – siswa lainnya. Dan kepalaku menoleh untuk  melihat siapa orang yang menarikku tanpa alasan yang jelas seperti ini, dan ternyata Risa. “Huh!,” pikirku kesal. Dan akhirnya kami berhenti berlari tepat di belakang  bangunan sekolah kami yang cukup sepi, tampaknya ada sesuatu yang ingin disampaikan Risa padaku. “Ra, aku tadi mendengar Bobby dan Rony membicarakan rencana jahil mereka untuk mempermalukanmu di depan kelas”, ucap Risa dengan tersengal – sengal. “Jadi hanya ini yang mau kamu kasi tahu sama aku setelah tiba – tiba kamu ajak aku lari – lari keliling Sekolah?”, cetusku, lalu pergi meninggalkan Risa yang terpaku mendengar ucapanku barusan. Aku pun baru sadar, mengapa kalimat itu tiba – tiba saja keluar dari mulutku, dalam berjalan aku berfikir, mungkin Risa berniat baik padaku untuk tidak dipermalukan Bobby dan Rony lagi di depan kelas, tapi aku hanya ingin menganggap apa yang terjadi semalam dan yang akan terjadi nanti hanyalah kesilapanku yang tak disengaja. Walaupun sebenarnya itu sudah terjadi beberapa kali…
-----------------------------

“Teng…teng…teng..,” lonceng tanda jam pelajaran Matematika hari ini telah usai, dan akan dilanjutkan pelajaran Bahasa Indonesia. Selama 2 jam pelajaran, aku dan Risa yang duduk bersebelahan masih saling membisu. Tak ada yang berani memulai pembicaraan.
“Selamat pagi anak – anak,” sapa Pak Rama, guru Bahasa Indonesia  yang baru masuk ke kelas dan siap memulai pelajaran. “Pagi Paak…!” jawab kami serempak. “Baiklah anak – anak, materi pelajaran kita hari ini adalah menulis dan membaca cerpen. 3 Jam pelajaran hari ini kita gunakan 2 jam untuk menulis cerpen, dan 1 jam untuk membacanya ke depan kelas dengan diundi,” kata Pak Rama bersemangat. Semua siswa antusias mendengarnya. Mereka langsung memulai berimajinasi, tak terkecuali Dira. Lain halnya dengan Risa yang gelisah karena khawatir kejadian semalam akan terulang lagi pada sahabatnya Dira. Ia tahu ini semua rencana Bobby dan Rony untuk mempermalukan Dira lagi di depan kelas.
2 Jam berlalu…
Semua siswa terlihat puas setelah melihat cerpen mereka telah selesai. “Ehem… Baiklah anak –anak, seperti biasa Bapak akan mengundi nama - nama yang akan tampil di depan kelas terlebih dulu. Ketua kelas tolong bantu bapak untuk membuat nama – nama seluruh siswa yang akan kita undi,” kata Pak Rama. Dengan senyum mengembang dan sambil mengedipkan mata kepada Rony, Bobby menyiapkan kertas – kertas kecil kemudian menuliskan beberapa nama. Kertas – kertas tersebut kemudian digulung dan dikumpulkan dalam sebuah wadah berbentuk tabung. “Nah! Sudah siap anak – anak?” tanya Pak Rama. “Siap Paaaak…!” jawab semua murid. Pak Rama mulai mengambil 1 gulungan kertas dan membukanya. Dengan harap – harap cemas para siswa menanti nama mereka yang akan dipanggil pertama. “Dan undian pertama adalaaaaah…DIRA!” teriak Pak Rama. Dengan semangat Dira maju ke depan kelas dan memulai cerpennya. Para siswa menyimak cerita yang Dira sampaikan di depan kelas, namun tiba – tiba ada beberapa kalimat asing (lagi) yang mereka dengar dari pengucapan Dira : “Sejak kepergiam Tuam dam aymoym Darnawam mereka pekerjaan urusam nemgabaikam..”. “Hey Dira! Kamu tidak bisa membaca ya! Membaca tulisan sendiri saja tidak becus, kenapa bisa masuk SMA? Hahahaha…” teriak Bobby. Dan diikuti ketawa seluruh siswa di kelas, kecuali Risa. Dira tiba – tiba menghentikan bacaannya dan terdengar bunyi lonceng tanda istirahat. Pak Rama pun menyuruh Dira kembali ke tempat duduk dan akan disambung lagi minggu depan. Dira buru – buru menuju kursinya dan menahan air matanya yang sudah menggenang. Lagi – lagi Dira tak mengerti apa kesalahan yang telah ia buat, ia merasa tak ada yang salah dalam penulisan dan bacaannya, namun teman – temannya masih saja menertawakannya seperti kejadian semalam. Ia benar – benar menghayati puisi yang ia bacakan di depan kelas, namun penghayatan itu tiba – tiba pecah karena Bobby juga mengatakan hal yang sama seperti yang ia katakan hari ini. Dan semua teman – temannya yang semula juga ikut terlarut dalam penghayatan Dira tiba – tiba alis mereka berkerut dan ikut tertawa bersama Bobby.
“Dira, aku udah tahu sebenarnya hari ini akan terjadi lagi seperti semalam, tadi aku sebenarnya ingin mengatakan padamu kalau Bobby akan menuliskan semua namamu di kertas undian itu, agar kamu yang maju ke depan kelas dan membaca dengan… yaa mungkin kamu tahu, aku tak perlu mengatakannya”, jelas Risa panjang lebar yang akhirnya berani membuka pembicaraan. “Tidak! Aku tidak tahu apa yang terjadi, mengapa mereka menertawaiku, apa yang salah dengan cerpenku?”, isak Dira yang tak bisa membendung air matanya lagi. Risa hanya terpaku mendengar jawaban Dira yang rasanya cukup aneh, jelas – jelas ia mendengar Dira mengatakan yang seharusnya huruf m menjadi n, huruf n menjadi m, dan penyusuan kalimat Dira yang terbalik. Tapi apa mungkin hal yang jelas seperti itu harus ia jelaskan pada Dira. Risa memilih untuk tidak melanjutkan membahas hal itu, dan ia mencoba menghibur Dira seperti biasa.  

---------------------------

“Pak, mampir ke Café di ujung jalan ya, kami mau beli cemilan untuk di rumah, lapeeeer,” pinta Dira pada Pak Heri. “Ok, neng,” jawab Pak Heri. Café itu terlihat ramai seperti biasanya, saat memasuki café, Dira dan Risa sudah mencium aroma coffe latte, cheese cake, klappertart, dan beraneka macam aroma kue dan minuman lainnya. “Mbak, saya pesan coffe latte panas 2 dan cheese cake 2,” ucap Dira pada pelayan Café. “Ini mbak, semuanya Rp. 54.500,-” kata si pelayan. Dira menyerahkan selembar uang Rp. 100.000,-. “Ini kembaliannya mbak, terimakasih,” kata si pelayan sambil tersenyum. “Sama – sama”, balas Dira sambil mengambil uang kembalian.
---------------------------

“Assalamu’alaikum..” teriak Dira dan Risa bersamaan sambil memasuki rumah. “Wa’alaikumsalam, eh ada nak Risa, ayo masuk,” jawab Ibu Dira yang dibalas anggukan dan senyuman dari Risa. “Sebentar ya Ris, aku ambil sendok dan piring dulu, kamu tunggu aja di kamar aku,” ucap Dira. Risa mengangguk mengiyakan. “Eh Ris, gimana hari ini di Sekolah? Dira baik – baik ajakan?” bisik Ibu Dira. “Hmm..hmm.. kejadian semalam terulang lagi tante,” jawab Risa polos. Tiba – tiba muncul rasa penasaran Risa pada Dira yang menurutnya sedikit aneh. “Hmm… tante, sebenarnya ada apa sama Dira? Tadi dia bilang kalau dia tidak sadar kalau ucapannya itu salah, kan jelas – jelas…” . “Ssstt…” potong Ibu Dira cepat mendengar ocehan Risa panjang lebar yang seperti omelan. “Hmm… Sepertinya kamu perlu tau tentang Dira, dan tante harap kamu bisa bantu tante dan om supaya Dira tidak putus asa”, jawab Ibu Dira yang diterima dengan kerutan dahi dari Risa.
----------------------------

Di kamarnya, Risa masih memikirkan penjelasan dari Ibu Dira yang menurutnya sangat sulit ia cerna. Dia mencoba kembali mengingat – ingat penyakit yang diderita Dira. “Aha!”, seru Risa tiba – tiba.
“ Disleksia”, tangan Risa mengetik dan mencoba mengeja apakah kata itu benar atau tidak, buru – buru ia menekan ‘enter’.
“Disleksia (Inggris: dyslexia) adalah sebuah kondisi ketidakmampuan belajar pada seseorang yang disebabkan oleh kesulitan pada orang tersebut dalam melakukan aktivitas membaca atau menulis. Penderita terjebak dalam dunia yang penuh dengan tulisan-tulisan yang tidak dimengerti. Istilah disleksia mengacu pada gangguan membaca yang dimiliki oleh seseorang, seperti kesulitan membaca, memahami bacaan, kesulitan membedakan huruf yang mirip seperti b, d, q, p, v, u, n,m dan lainnya.
 Penderita disleksia secara fisik tidak akan terlihat sebagai penderita. Disleksia tidak hanya terbatas pada ketidakmampuan seseorang untuk menyusun atau membaca kalimat dalam urutan terbalik tetapi juga dalam berbagai macam urutan, termasuk dari atas ke bawah, kiri dan kanan, dan sulit menerima perintah yang seharusnya dilanjutkan ke memori pada otak.
Hal ini yang sering menyebabkan penderita disleksia dianggap tidak konsentrasi dalam beberapa hal. Para peneliti menemukan disfungsi ini disebabkan oleh kondisi dari biokimia otak yang tidak stabil dan juga dalam beberapa hal akibat bawaan keturunan dari orang tua.”
“Pengobatan disleksia”, tangan Risa kembali mengetik pada kotak pencarian, kemudian menekan‘enter’.
“Pengobatan disleksia antara lain :

Metode multi-sensory.
Dengan metode yang terintegrasi, penderita diajarkan mengeja tidak hanya berdasarkan apa yang didengarnya lalu diucapkan kembali, tapi juga memanfaatkan kemampuan memori visual (penglihatan) serta taktil (sentuhan). Cara ini dilakukan untuk memungkinkan terjadinya asosiasi antara pendengaran, penglihatan dan sentuhan sehingga mempermudah otak bekerja mengingat kembali huruf-huruf.

Membangun rasa percaya diri.
Jangan pernah menganggap mereka bodoh dalam melakukan apapun. Bantulah mereka menemukan keunggulan diri, agar bisa merasa bangga dan tidak pesimis terhadap hambatan yang saat ini sedang diatasi. Kalau perlu, jelaskan pada mereka figur-figur orang terkenal yang mampu mengatasi problem disleksianya dan melakukan sesuatu yang berguna untuk masyarakat.”

Risa terpaku setelah membaca artikel yang membuatnya tak percaya, kalau sahabatnya Dira yang ia kenal cantik, pintar, dan punya segala kemewahan, ternyata mengidap penyakit aneh bernama disleksia. Namun hal itu tidak menjadi penghalang bagi Risa untuk tetap menyayanginya sebagai sahabat dan Risa ingin sekali membantu Dira agar ia bisa sembuh dari penyakit itu. Bergegas Risa raih Hp yang ada di sebelahnya dan menuliskan sebuah pesan singkat untuk Dira :




To : +625212968050
Dira

Aku sayang kamu Dira :)
 
 







“Zetzetzet…,” Hp Risa bergetar tanda sms masuk :




From : +625212968050
Dira

Hey, are you OK???

 
 




Tidak ada komentar:

Posting Komentar